jump to navigation

Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Januari 15, 2009

Posted by mrjack in Islam, Nasehat.
trackback

Kepungan teknologi telah membentuk “gaya hidup” tersendiri dalam diri anak. Banyak “idola” yang lahir dari rahim media utamanya peranti elektronik bernama televisi. Di sisi lain, idola sesungguhnya bagi umat Islam justru dilupakan dan dianggap tokoh yang semata mengisi lembar sejarah. Di mana peran orang tua selama ini?

Seorang anak kecil sedang menggenggam sebuah majalah anak-anak, matanya mengamati sesosok artis cilik yang termuat di majalah itu. Di kamarnya terpajang beberapa poster sang artis. Menjadi seperti sang tokoh adalah idaman yang dia angankan selama ini. Pakaian, aksesori, bahkan gaya dia buat semirip mungkin dengan tokoh pujaannya. Bahkan kalau bisa, makanan dan mainan favorit si artis pun menjadi favoritnya pula. Segala tingkah polah si artis adalah suatu yang sah-sah saja baginya.
Fenomena semacam ini sangat sering ditemui, di banyak tempat, di segala tingkatan usia, membuat kita benar-benar mengelus dada. Bagaimana tidak, sementara yang lebih banyak mereka konsumsi adalah beraneka ragam majalah anak, televisi dengan beragam channel dan acara, tak sulit pula mereka menikmati VCD. Tak aneh tentunya bila mereka lebih banyak mengenal tokoh-tokoh yang ada di sana.
Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita mengadukan segala keadaan yang menyedihkan seperti itu. Betapa mereka tak mengenal tentang satu-satunya sosok yang layak dijadikan panutan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa jarang, bahkan hampir tak pernah mereka dengar cerita kehidupan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, kecuali hanya sekedar namanya atau sekilas biografinya dalam mata pelajaran agama dengan jam pelajaran yang amat terbatas di sekolah.
Mana sebenarnya yang lebih melapangkan dada orang tua, si anak mengikuti tokoh rekaan atau tokoh pujaan yang memiliki segudang kekurangan dan banyak kemungkinan berbuat kesalahan dan kemaksiatan, ataukah si anak meneladani sosok yang begitu sempurna untuk menjadi teladan, yang memiliki segala sisi kebaikan?
Orangtua yang bijaksana tentu menginginkan kebaikan bagi anak-anak mereka tak sebatas saat anak-anak itu hidup di dunia, namun hingga nanti ketika mereka telah kembali ke hadapan Rabbnya. Orang tua seperti ini tentu akan menjaga anak-anak mereka dari kerusakan moral –dan menjaga sebaik-baiknya moralitas mereka– sehingga tak akan membiarkan anak mereka bergaya dan berperilaku semau mereka. Mereka akan membimbing anak-anak yang bak ranting muda yang mudah tertiup angin ini dengan bimbingan terbaik. Sementara itu, tak ada bimbingan terbaik selain yang didapat dari sosok manusia yang terbaik pula, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semestinya orangtua memiliki andil besar dalam mengenalkan anak-anak pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tumbuh rasa cinta anak-anak itu kepada beliau. Dari sana mereka akan terdorong untuk mengikuti beliau, dalam ucapan, perilaku, dan dalam segala hal. Dalam kehidupan beliau, mereka mendapatkan pelajaran yang besar dan sangat berharga untuk kehidupan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Permasalahan mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah permasalahan sepele, karena kecintaan kepada beliau merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan hal ini, sebagaimana dinukilkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian sampai diriku menjadi seorang yang lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)
Jika kita menelaah kehidupan anak-anak di kalangan para sahabat, kita akan melihat kecintaan mereka yang begitu besar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjadi seseorang yang paling mereka utamakan dan paling berharga dalam kehidupan mereka. Mereka memiliki kebanggaan dengan mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat bagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan tentang dirinya:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ؟ قَالَ: حُبَّ اللهِ وَرَسُوْلِهِ. قَالَ: فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ اْلإِسْلاَمِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ

“Seseorang pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat terjadi?’ Beliau pun bertanya kepadanya, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari kiamat?’ Dia menjawab, ‘Kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.’ Maka beliau bersabda, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.’ Anas berkata, ‘Tidak ada sesuatu pun yang menggembirakan kami setelah Islam lebih dari ucapan Nabi: ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai’. Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakr dan Umar, maka aku pun berharap akan bersama mereka walaupun aku belum beramal seperti amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)
Tidak heran bila Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu begitu mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena semenjak kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah –ketika itu Anas masih berusia delapan atau sepuluh tahun– dia selalu mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membantu dan melayani beliau. Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, sang ibulah yang mendorong Anas dan menyerahkannya pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberikan khidmah (pelayanan) kepada beliau. Anas melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun lamanya hingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Anas begitu terkesan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tak pernah memukulnya, tak pernah mencela maupun bermuka masam di hadapannya, selama dia memberikan pelayanan kepada beliau. (Siyar A’lamin Nubala`, 3/398)
Begitu cintanya dan begitu besar keinginan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu untuk mengikuti dan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai-sampai makanan yang semula tidak disukai pun menjadi sesuatu yang dia sukai karena melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakannya. Anas menceritakan:

إِنَّ خَيَّاطًا دَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَهُ، قَالَ أَنَسٌ: فَذَهَبْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ذَلِكَ الطَّعَامِ، فَقَرََّبَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُبْزًا مِنْ شَعِيْرٍ وَمَرَقًا فِيْهِ دُبَّاءٌ وَقَدِيْدٌ. قَالَ أَنَسٌ: فَرَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِنْ حَوْلِ القَصْعَةِ، فَلَمْ أَزَلْ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مِنْ يَوْمِئِذٍ. قَالَ ثُمَامَةُ عَنْ أَنَسٍ: فَجَعَلْتُ أَجْمَعُ الدُّبَّاءَ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seorang tukang jahit mengundang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikmati hidangan makan yang disajikannya. Maka aku mendatangi undangan makan itu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia pun menghidangkan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam roti gandum serta kuah berisi labu dan daging. Lalu aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumputi labu dari pinggiran pinggan. Maka sejak hari itu aku selalu menyukai labu.” Tsumamah mengatakan dari Anas, “Maka kukumpulkan labu itu di hadapan beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5439)
Kisah ini menunjukkan keutamaan yang nyata pada diri Anas radhiyallahu ‘anhu karena dia selalu mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai pun pada segala sesuatu yang bersifat jibiliyyah.1 (Fathul Bari, 9/652)
Kisah lain yang begitu mengesankan tercatat dalam Ash-Shahihain, tentang dua pemuda yang begitu mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kecintaan itu membangkitkan keberanian mereka dalam perang Badr untuk membunuh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yang telah banyak mengganggu dan menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini dituturkan oleh seorang sahabat yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, yang menyaksikan dengan mata kepalanya sepak terjang kedua pemuda ini:

بَيْنَا أَنَا وَاقِفٌ فِى الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ فَنَظَرْتُ عَنْ يَمِيْنِي وَشِمَالِي، فَإِذَا أَنَا بِغُلاَمَيْنِ مِنَ اْلأَنْصَارِ حَدِيْثَةٍ أَسْنَانُهُمَا تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُوْنَ بَيْنَ أَضْلَعَ مِنْهُمَا، فَغَمَزَنِي أَحَدُهُمَا فَقَالَ: يَا عَمِّ، هَلْ تَعْرِفُ أَبَا جَهْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، مَا حَاجَتُكَ إِلَيْهِ يَا ابْنَ أَخِي؟ قَالَ: أُخْبِرْتُ أَنَّهُ يَسُبُّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَئِنْ رَأَيْتُهُ لاَ يُفَارِقُ سَوَادِي سَوَادَهُ حَتَّى يَمُوْتَ اْلأَعْجَلُ مِنَّا. فَتَعَجَّبْتُ لِذَلِكَ، فَغَمَزَنِي اْلآخَرُ فَقَالَ لِي مِثْلَهَا، فَلَمْ أَنْشَبْ أَنْ نَظَرْتُ إِلَى أَبِي جَهْلٍ يَجُوْلُ فِى النَّاسِ. فَقُلْتُ: أَلاَ، إِنَّ هَذَا صَاحِبُكُمَا الَّذِي سَأَلْتُمَانِي، فَابْتَدَرَاهُ بِسَيْفَيْهِمَا، فَضَرَبَاهُ حَتَّى قَتَلاَهُ. ثُمَّ انْصَرَفَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَاهُ فَقَالَ: أَيُّكُمَا قَتَلَهُ؟ قَالَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا: أَنَا قَتَلْتُهُ. فَقَالَ: هَلْ مَسَحْتُمَا سَيْفَيْكُمَا؟ قَالاَ: لاَ. فَنَظَرَ فِى السَّيْفَيْنِ فَقَالَ: كِلاَكُمَا قَتَلَهُ سَلَبُهُ لِمُعَاذِ بْنِ عَمْرِو ابْنِ الْجَمُوْحِ. وَكَانَا مُعَاذَ بْنَ عَفْرَاءَ وَ مُعَاذَ ابْنَ عَمْرِو بْنِ الْجَمُوْحِ

“Ketika aku berdiri di tengah-tengah barisan pasukan dalam perang Badr, aku melihat ke kiri dan kananku. Ternyata aku berada di antara dua pemuda Anshar yang masih belia umurnya. Aku pun berangan-angan aku lebih kuat daripada keduanya. Lalu salah satu di antara mereka menggamitku sambil bertanya, “Wahai paman, apakah engkau mengenal Abu Jahl?” Aku menjawab, “Ya! Apa perlumu dengan Abu Jahl, wahai anak saudaraku?” Dia berkata, “Aku pernah diberi tahu bahwa dia selalu mencela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak akan berpisah diriku dengannya sampai mati salah seorang di antara kami yang paling cepat ajalnya.” Aku pun merasa kagum akan hal itu. Kemudian pemuda yang satu juga menggamitku dan mengatakan padaku hal yang serupa. Tidak lama setelah mereka bertanya padaku, aku melihat Abu Jahl sedang bergerak kesana kemari di antara pasukan. Aku pun berkata pada mereka berdua, “Lihat! Itulah orang yang kalian tanyakan padaku tadi.” Keduanya pun bergegas menyerang Abu Jahl dengan pedang mereka lalu menebasnya hingga berhasil membunuhnya. Setelah itu mereka pergi menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitakan peristiwa itu pada beliau. “Siapa di antara kalian yang membunuhnya?” tanya beliau. Masing-masing dari keduanya menjawab, “Saya yang membunuhnya!” “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” tanya beliau lagi. “Belum,” jawab mereka. Beliau lalu mengamati kedua pedang mereka, kemudian berkata, “Kalian berdua telah membunuhnya. Sementara barang-barang yang digeledah dari Abu Jahl menjadi milik Mu’adz bin ‘Amr ibnul Jamuh.” Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra` dan Mu’adz bin ‘Amr ibnul Jamuh. (HR. Al-Bukhari no. 3141 dan Muslim no. 1752)
Inilah sebagian kecil di antara sekian banyak kisah tentang kecintaan anak-anak para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun bukan berarti kecintaan kepada beliau turut sirna dengan wafatnya beliau, sama sekali tidak. Bahkan harus terus berlanjut, termasuk dengan mencintai sunnah-sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menukilkan ucapan Al-Qadhi bin ‘Iyadh rahimahullahu: “Di antara bentuk kecintaan pada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menolong sunnah beliau, membela syariat beliau, dan mengangankan seandainya beliau masih ada sehingga dia bisa mengorbankan harta dan jiwanya untuk membela beliau.” (Syarh Shahih Muslim, 2/15)
Berarti termasuk tanggung jawab orang tua adalah mengajarkan Sunnah-Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, membiasakan mereka untuk melaksanakannya dalam keseharian, memupuk kecintaan dan pengagungan mereka terhadap Sunnah-sunnah tersebut, disertai dengan pembelaan terhadap sunnah dari orang-orang yang meremehkan dan mencelanya.
Yang seperti ini pun kita bisa mendapati dalam kehidupan generasi terbaik umat ini. Mereka mengajari anak-anak mereka Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat kesungguhan Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dalam mengajari anak-anaknya:

كَانَ سَعْدٌ يُعَلِّمُ بَنِيْهِ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمُعَلِّمُ الْغِلْمَانَ الْكِتَابَةَ وَيَقُوْلُ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلاَةِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Sa’d mengajari anak-anaknya kalimat ini seperti seorang guru mengajari anak-anak menulis. Dia mengatakan, ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dari perkara-perkara ini setiap selesai shalat: Ya Allah, aku mohon perlindungan pada-Mu dari sifat penakut, dan aku mohon perlindungan-Mu dari dikembalikannya diriku pada usia yang lemah, dan aku mohon perlindungan-Mu dari fitnah dunia, dan aku mohon perlindungan-Mu dari azab kubur.” (HR. Al-Bukhari no. 2822)
Demikian pula yang dikisahkan seorang anak shahabat yang mulia, Muslim bin Abi Bakrah:

أَنَّهُ كَانَ سَمِعَ وَالِدَهُ يَقُوْلُ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ. فَجَعَلْتُ أَدْعُو بِهِنَّ، فَقَالَ: يَا بُنَيَّ، أَنَّى عُلِّمْتَ هَؤُلاَءِ الكَلِمَاتِ؟ قُلْتُ: يَا أَبَتِ، سَمِعْتُكَ تَدْعُو بِهِنَّ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ، فَأَخَذْتُهُنَّ عَنْكَ. قَالَ: فَالْزَمْهُنَّ يَا بُنَيَّ، فَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو بِهِنَّ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ

“Dia selalu mendengar ayahnya berdoa pada akhir shalatnya: ‘Ya Allah, aku mohon perlindungan pada-Mu dari kekufuran, kefakiran, dan azab kubur.’ Maka aku (Muslim bin Abi Bakrah, pen.) turut pula mengucapkan doa itu. Kemudian ayahku bertanya, “Wahai anakku, dari mana engkau diajarkan kalimat-kalimat itu?” Aku menjawab, “Wahai ayah, aku mendengarmu mengucapkan doa itu di akhir shalatmu, maka aku pun mempelajarinya darimu.” Ayahku berkata lagi, “Tetaplah kau baca doa itu, wahai anakku, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengucapkan doa itu di akhir shalat beliau.” (HR. An-Nasa`i no. 5465, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan An Nasa`i: “Sanadnya shahih.”)
Tak hanya itu, para sahabat juga membiasakan anak-anak mereka untuk mengamalkan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, puasa misalnya. Ini diceritakan oleh Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha:

أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُوْرَاءَ إِلَى قُرَى اْلأَنْصَارِ: مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ. قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُوْمُهُ بَعْدُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُوْنَ عِنْدَ اْلإِفْطَارِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang pada pagi hari ‘Asyura ke perkampungan Anshar untuk menyampaikan: “Barangsiapa yang pagi hari itu dalam keadaan tidak berpuasa, hendaknya menyempurnakan hari itu dengan berpuasa, dan barangsiapa yang berpuasa, hendaknya menyempurnakan puasanya.” Maka kami pun berpuasa dan menyuruh anak-anak kami berpuasa, dan kami membuat mainan dari perca. Apabila anak-anak itu menangis karena lapar, kami memberikan mainan itu. Demikian seterusnya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Al-Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)
Inilah yang ada dalam kehidupan para sahabat. Mereka mendorong anak-anak mereka untuk mencintai beliau, mencintai syariat yang beliau bawa, dan melaksanakannya dalam kehidupan mereka. Mereka berharap, dengan itu anak-anak mereka akan senantiasa terbimbing sepanjang hidup mereka di dunia, serta meraih bahagia dalam kehidupan mereka kelak di kampung akhirat. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran

1 Yaitu perbuatan yang muncul dari tabiat atau sifat asal seseorang.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: